wall of art

WELCOME WELCOME WELCOME TO THIS BLOG,,, THIS IS THE WALL OF ART

Senin, 26 September 2011

BUDAYA TULA-TULA MASYARAKAT WAKATOBI

ILMU BUDAYA DASAR (TUGAS 1)

PENGANTAR
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang sejak dulu dikenal sebagai bangsa yang berbudaya. Keberbudayanya tersebut biasa ditandai oleh banyaknya peninggalan-peninggalan masa lampau sebagai hasil kreativitas manusia Indonesia dalam bentuk artefak seperti candi, keraton, prasasti, dan bangunan masa lampau lainnya, tetapi juga ditandai oleh beragamnya kreativitas, akal dan budi (kebudayaan) masyarakat nusantara dalam bentuk tradisi tulis (naskah) dan tradisi lisan yang tercakup dalam kajian folklor/folklore. Bahkan, masih kita jumpai kebiasaan-kebiasaan masyarakat yang hingga kini masih ditekuni, seperti batik dan tenun. Beberapa hal yang diuraikan di atas merupakan “hasil kebudayaan” manusia Indonesia yang karenanya menjadikan bangsa ini dikenal sebagai bangsa yang berbudaya dan sebagai masyarakat yang berperadaban tinggi.
Di antara hasil kebudayaan masyarakat Indonesia yang telah banyak menarik perhatian para ilmuan adalah peninggalan masa lampau dalam bentuk artefak (bangunan fisik) baik oleh ilmu sejarah maupun arkeologi, juga tradisi tulis (dalam bentuk naskah-naskah kuno) melalui ilmu filologi, kodikologi, dan tekstologi. Akan tetapi hasil kebudayaan berupa kebiasaan-kebiasaan masyarakat yang kita kenal dengan tradisi lisan, sebagian lisan dan bukan lisan (folklor) terutama dikawasan timur Indonesia belum banyak dikaji. Kendatipun setelah ada, sebagian besar baru pada tahap pengidentifikasian hingga pada pengumpulan dengan cakupan wilayah yang sangat terbatas pula. Kajian yang bersifat analitis dapat dikatakan masih bisa dihitung jari.
Seperti halnya masyarakat lain yang ada di nusantara (dalam konteks masyarakat Indonesia), masyarakat di WAKATOBI (salah satu etnis di Sulawesi Tenggara) adalah masyarakat yang kaya dengan folklor. Beberapa jenis folklore milik masyarakat di WAKATOBI yang masuk dalam folklor lisan adalah cerita rakyat yang dalam bahasa daerah ini disebut “tula-tula”. Cerita rakyat atau tula-tula ini, tersaji dalam bentuk dongeng, legenda dan mite/mitos. Selain bentuk itu, teka-teki tradisional “tangke-tangkeku/taning-taningku atau tangke-tangke” dan juga nyanyian rakyat, seperti nyanyian mengkloni anak yang disebut dengan “nyanyian bue-bueĆ­, nyanyian ungkapan perasaan “bhanti”, nyanyian “nyamaula”, atau semacamnya merupakan jenis folklor lisan masyarakat di daerah ini. Kecuali hal tersebut, “kepercayaan rakyat” (falk belief) sekitar lingkaran hidup dan keyakinan rakyat (superstitious) merupakan bentuk folklor sebagian lisan milik masyarakat di WAKATOBI. Dalam kultur masyarakat WAKATOBI, juga memiliki jenis-jenis permainan rakyat yang sangat beragam. Sebagai contoh dari keragaman jenis permainan rakyat dimaksud daerah ini, baik yang dimainkan oleh anak-anak dan remaja seperti; lebha, aka-akarida, oko-okolobhe, permainan orang dewasa, seperti hedharoji/edharoji, juga hebhaongko/bhaongko, soloro atau ase juga dapat kita saksikan. Belum lagi permainan rakyat secara khusus hanya dimainkan oleh anak laki-laki dewasa, seperti posemba dan potangkali. Dari seluruh jenis permainan rakyat yang dimaksud, terdapat jenis-jenis permainan yang apabila dilihat dari sifat-sifatnya, dapat berbentuk competitive, game of physical skill, maupun dalam bentuk game of strategi.
Selain jenis folklor lisan dan sebagian lisan seperti yang telah diketengahkan di atas, folklor bukan lisan berupa makanan rakyat, juga cukup beragam jenis-jenis makanan rakyat seperti soami, kabhae-bhae, jepe, kambose, pombiwi, ndole-ndole, kadhempo, karasi, ndawu-ndawu, gule, susuru, dan epu-epu, perangi serta parende menjadi indicator dari kekayaan jenis folklor bukan lisan dalam kultur masyarakat daerah ini.
Yang akan saya bahas di sini adalah bagaimana BUDAYA TULA-TULA yang ada di masyarakat WAKATOBI. Apakah masih ada, ataukah budaya TULA-TULA sudah punah di kawasan WAKATOBI???

BUDAYA TULA-TULA KABUPATEN WAKATOBI

Budaya tula-tula adalah merupakan genre folklor lisan d WAKATOBI dan merupakan cerita prosa masyarakat WAKATOBI.  Tula-tula dalam dialeg-dialeg masyarakat di WAKATOBI memiliki sedikitnya dua pengertian yakni; pertama, tula-tula berarti cerita seseorang tentang sesuatu hal dalam konteks kesekarangan. Misalnya, orang menceritakan sebuah peristiwa yang baru disaksikannya kepada orang lain. Dalam konteks ini sering ada bahasa yang mengatakan “mai to tula-tula ako”, soba tula-tulae gara”, “wanaumpa natula-tulano na kejadian inggawiyayi?” dan semacamnya. Kedua, yaitu tula-tula sebagai seluruh jenis cerita masa lampau yang tidak diketahui lagi siapa dan kapan cerita itu dibuat (cerita rakyat), baik yang tersaji dalam bentuk;  mite, legenda, maupun fable. Berikut adalah dua contoh cerita rakyat yang dimaksud..

A.   Wayindo-yindodhiyu/Wandiyudhiyu

Dalam tradisi masyarakat di WAKATOBI dikenal cerita berjudul “Wayindo-yondodhiyu/Wandiyudhiyu”. Cerita Wayindo-yindodhiyu/Wandiyudhiyu ini adalah cerita tentang seorang ibu yang pekerjaannya selalu mencari ikan dan mencari kerang-kerangan laut bila air laut sedang surut, dalam bahasa daerah WAKATOBI disebut “tunga” untuk menafkahi anak-anaknya. Pekerjaan ini dilakukannya untuk mengambil alih peran suaminya yang pekerjaannya hanya mabuk-mabukan, berjudi, dan keluyuran kian kemari.

Pekerjaan Wayindo-yindodhiyu/Wandiyudhiyu mencari ikan (tunga), awalnya hanya sebatas memenuhi kebutuhan makanan sehari-hari. Juga untuk memenuhi keinginan anak-anaknya ketika meminta lauk bila mereka hendak makan. Tetapi karena pekerjaannya itu menjadi rutinitasnya, menyebabkan ia bersisik dan akhirnya berubah menjadi seekor ikan yang dalam dialek daerah masyarakat WAKATOBI disebut “dhiyu” dalam bahasa Indonesia, kita kenal dengan ikan duyung. Teks cerita Waindho-indhodhiyu sebagai berikut.

Teks Tula-Tula Waindho-indhodhiyu
Sapaira-sapaira iso, Imolengo jamani ane ke sahuu wunua te anano totolu. Te inano tengaano te Waindho-indhodhiyu. Te amano tekara jaano habuntu tepotarua, temorouka, kenee wilaa mbeyaka tumatapu. Nomai-nomai mina dhi wilaa, malingu miya dhi wunua nosiasae, maka amo nomangae bhisa tenimanga nu ananomai. Pasi noheka sia-siasa kene nomangae sabhaane na nimanga, nowilamo kua nilaano. Ara nomelu na ananomai habuntu nowaae kua “bara dhimelu-melu”. Pasi nomanga atawa noheka sia-siasa, notadha akoemo na wunua bara keidhahanino satompa sapuria.
                Molengo-molengo na mingkuno measoe, mbeakamo no iliie na bhelano kene ananomai. Ara nowaliyako kua wunua dheimo sawali-sawali. Ara kua nowaliyako tekarajaano habuntumo te pamurua. Malingu mia umangkae dhi laro nuwunua akomo teisiasano. Tebhelano kee ananomai mbheyaka nopooli nopoga, dheimo nohedho-hedhoito laa norodha teura-urano.
                Molengo-molengo, totolue naananomai nodhahanimo tee laro. Sawakutuu tee anano mbalikaka noemaemo kua inano “wa ina, ara teyamasu mbeyakamo nomaliako kua wunua, teyikami kamangamo tepaira”. Norodhongo tepogau nuanano wanaiso, mebheyaka nupoolii nasailarono nainano. Kebutii nuluuno nobhalooe naanano kua “teyikita mbheyakamo tahumarapumpuu kua anamiyu, sabhaane kita takumomingku akoane teimanga-manga akonto”. Teyikoo horoyiyae naiyayiu, akoane kujari kutunga-tunga kita ako teeimanganto”, nabhalo nuinano.
                Sawakutuu nowaliyako nainano mina dhi tungaa, nomaimo ketinungano. Saratono dhi wunua, te ika dhimaino nohenunuemo ako teimanga nuananomai. Mbheyakaho nomotaa sabhaane, dheimolaa noumba na amino mina diwila. Malingu ika motaamo nomangae sabhaane. Wakutuu meayasoe te anano mbalikaka numelu kua “wa ama, huuaku keiyaku nggalamo te kappa-kapalano”. Habuntu nobhaloe teamano kua “ikomiyu anabhou bhara di kappa-kapala”. Teana tongano nomelu uka “wa ama huuaku keiyaku nggalamo teiku-ikuno”. Nobhaloe teamano kua “teyikomiu anabhou bhara dhi iku-iku”. Pasi nomangae sabaane nanimanga, bhara kemiya dihuuno, mbeyaka nomele posanga notadha akoe nuwunua.
                Sailangeno uka, te waindho-indhodiyu nowilamo uka di tunga ako teimanga nuananomai. Haaha tunggala oloyo nowila notunga, ahirino noombomo nakuru dhi habhitino. Saombono nakuru dhi habitinino nowaaemo naanano mbalikaka kua “mina meya-meyanaeyai jagae leyama naiyayiu, teiyaku taaka kumembali ikamo”. Norodhongo tepogau nuinano wanaiso, sabaane naananomai nohedhoito sagau-gauno. Pasi measoe, nowaaemo uka kua “ara sabhaane naorungusu nobhukeemo tekuru, bawae naiyayiu kua mawi akoane kutitie di iwo, parantaeya teiyaku kuambangamo teekaa dhi togomayi”. Pasi iso nuwilamo sawali kua mawi.
                Sailangeno teanano kaipu nohedhoitoakomo temotindou. Teyikakano nopusiakomo tehedhoyito nuiyayino. Sambeyaka kapoiakono, ahirino noawie nayiyaino maka nowila nolaha teyinano di mawi. Ilaro nuwilaa nohenuntu te yoa, noeloe nainano kene lagu kua,

Wa…yindo…yindo… yindo dhiyu…
Maa.. yii su..su teiyandiku
Dhi.. watu… meka torun.. toru
Dhi.. bhata meka lonto-lonto
                Norodhongo telagu measoe, te Waiyindo-yindho dhiyu agori no kiyawa kua moperaa numawi maka notitie naanano. Pasi meatu nowaaemo naanano mbalikaka kua “mina meyanae kombitie leyama naiyayiu parantaeya teiyaku mbeyakamo kujumari kutimitie, sabaane naorungusu apa kapalasu nobukeemo te kuru”. Pasi nopogau wanaiso noonumo sawali kua mawi. Ahirino nowaliyako naananomayi kebuthi-buthi nuluuno. Mina taka meyatu mbheyakamo nopawaa kene anano.
TERJEMAHAN
Konon, dahulu kala ada satu rumah tangga memiliki tiga anak. Ibunya bernama Wayindo-yindodhiyu. Suaminya Wayindo-yindodhiyu ini, sering berjudi, suka minum minuman keras, pekerjaannya juga hanya keluyuran ke sana kemari tidak menentu. Setiap dari bepergian, semua orang di rumah dipukulinya. Tidak hanya itu, dia juga menghabiskan semua makanan meskipun makanan itu adalah bagian anak-anaknya. Bila anak-anaknya minta kepadanya, ia hanya menjawab “jangan minta-minta”. Setelah ia menyiksa seluruh orang di rumahnya, juga menghabiskan seluruh makanan yang ada iapun pergi meninggalkan rumah tanpa pamit.
                Tidak lama kemudian, karena perilakunya yang demikian itu, akhirnya dia tidak lagi menghiraukan istri dan anak-anaknya. Ia juga sudah jarang pulang ke rumahnya. Kendatipun ia sempat pulang, itupun tinggal sesekali. Kemudian, jika ia sempat pulang, pekerjaannya hanya marah-marah. Semua anggota keluarga yang menasehatinya, pasti dipukuli atau disiksanya. Istri dan anak-anaknya tidak dapat berkata apa-apa, kecuali menangis memikirkan nasib rumah tangganya.
                Hari berganti bulan, bulanpun berganti tahun, ketiga anaknya mulai remaja. Pada suatu saat, anaknya yang sulung bertanya kepada ibunya. “wahai ibunda, jika ayah kami tidak lagi mengingat kita atau tidak lagi pulang ke rumah, apa yang dapat kami makan”?. Mendengar pertanyaan anaknya demikian, Wayindo-yindodhiyu hanya dapat meneteskan air mata. Diiringi genangan air matanya, ia berkata pada anaknya, “ kita semua tidak lagi dapat berharap banyak kepada ayah kalian”. “kita semua harus dapat bekerja, meskipun itu hanya sebatas yang kita bisa makan”. “kamu sebagai anak sulung, harus dapat menjaga adik-adikmu agar ibu bisa mencari ikan dan kerang-kerangan, bila air laut surut” kata Wayindo-yindodhiyu.
                Pada suatu hari, tatkala Wayindo-yindodhiyu pulang dari mencari ikan dan kerang-kerangan, ia membakar ikan dan memasak seluruh kerang-kerangan laut yang diperolehnya. Tetapi, sebelum seluruh ikan dan kerang yang dimasaknya matang, tiba-tiba suaminya muncul ke rumah. Semua yang ada di depannya dilahapnya sampai habis. Melihat ayahnya makan dengan lahapnya, si sulung anaknya berkata, “ayah.., bisa aku minta ikannya, meskipun hanya kepalanya”!. Mendengar anaknya meminta seperti itu, sang ayah berkata, “kalian anak-anak jangan kepala-kepala”. Lalu anaknya yang kedua berkata “ayah.. berilah aku ikannya walaupun hanya ekor-ekornya”! Ayahnya pun menjawab, “kalian anak-anak jangan ekor-ekor”. Habis melahap seluruh makanan yang ada, tak seorangpun diberinya. Ia pun pergi meninggalkan rumah tanpa pamit.
                Keesokan harinya, Wayindo-yindodhiyu berangkat lagi mencari ikan dan kerang laut untuk menafkahi anak-anaknya. Hampir setiap hari pekerjaan itu dilakukannya. Karena keseringan mencari ikan dan kerang-kerangan laut, tidak lama kemudian, dibetisnya muncullah sisik. Melihat keadaan tubuhnya seperti itu, ia berkata kepada anak sulungnya, “nak…, mulai sekarang, jagalah adikmu baik-baik, tidak lama lagi ibu akan berubah menjadi ikan”. Mendengar kata ibunya seperti itu, semua anak-anaknya menangis sejadi-jadinya. Wayindo-yindodhiyu melanjutkan perkataanya, “jika seluruh bagian tubuh ibu sudah dipenuhi oleh sisik, bawalah adikmu di laut, menyusuri pantai agar ibu dapat menyusuinya. Jika seluruh tubuh ibu telah dipenuhi dengan sisik, ibu tentu akan malu untuk muncul ke darat”. Usai berkata demikian, Wayindo-yindodhiyu pun turun kembali ke laut.
                Esok harinya, si bungsu menangis karena haus. Si sulung menjadi kebingungan mendengar tangisan adiknya. Mendengar tangisan adiknya seperti itu, akhirnya ia menggendong adiknya menyusuri pantai untuk mencari ibunya di laut. Ketiga anak Wayindo-yindodhiyu berjalan menyusuri pantai sambil memanggil-manggil ibunya dengan lagu;
Wa…yindo…yindo… yindo dhiyu…
Datanglah susui adikku
Di batu yang bentuknya seperti paying
Pada kayu hanyut yang terapung-apung
                Samar-samar jauh di dalam air Wayindo-yindodhiyu mendengat lagu yang dinyanyikan anak-anaknya. Ia segera berenang ke tempat yang agak dangkal, lalu menghampiri ketiga anaknya. Digendongnya sibungsu lalu disusuinya. Usai menyusui anak bungsunga, ia berkata pada anak sulungnya, “mulai saat ini, peliharalah adik-adikmu dengan baik karena ibu tidak bisa lagi menyusuinya. Semua tubuh ibu, mulai dari kaki sampai kepala, sudah penuh dengan sisik”. Setelah berkata kepada anak-anak seperti itu, ia pun kembali berenang ke laut. Akhirnya anak-anaknya pulang bergelimang air mata dengan perasaan yang hampa tanpa ibu. Sejak saat itu, mereka tidak pernah lagi bertemu dengan ibunya.

B.  La ndoke-Ndoke Ke Lakolo-Kolopua
I molengo ai ane ke ndoke ke kolopua. Safakutu no fila I laro nurompu, I laro u fila-fila’a o poafa te hu’u pida. O ala e na hu’u pida iso, maka no bagi dua e. fikiri u ndoke “kumala te umbuno naiaku, parantai na bumae handa maka te hu’u no ako te kolopua”.  Pasi iatu no hembula emo na pida iso.
Safakutu no poafa, no ema a kolopua “afana umpamo na pida u” o balo na kolopua “ I idomo sa ro’o, ara te iko o ndoke”  o balo a ndoke “ matembaole-ole idombaole-ole”. Pasi iatu o poafamo uka, ema na ndoke “afana umpamo na pida u kolopua “, balo na kolopua “o idomo dua ro’o, ara te iko o ndoke”,  o balo na ndoke “matembaole-ole idombaole-ole” . pasi poafano meatu’e ai, o poafamo uka. O ema na ndoke “afana umpamo na pida u kolopua”, o balo na kolopua “ o baemo, ara te iko o”, o balo na ndoke “matembaole-ole idombaole-ole”.  Pasi iatu no poafamo uka. Ema na kolopua “ afana umpamo na pida u ndoke”, balo na ndoke “o matemo bisa te la’ano sa ekamo no to ita , ara te iko o kolopua “o motaamo”. “ara afanatu mai to ita’e”, o bisara na ndoke.
Maka te emai o filamo di pida iso. Saratono di iso, kolopua no soba o eka e na pida iso, toka eka no dari. O bisara na ndoke “afana umpa ko u mekae na pidatu”, balo u kolopua “ eka kudahanie”. Parantai te la kolokolopua eka o dahani ekaa ahirino no melumo ako a umekae te ia. Ema na ndoke “afana umpa ara ku eka emo la ate iaku, laa u huu aku te gadi”. Te la kolokolopua no hada, maka te ndoke no eka emo na pida iso. Saratono di fafo, no manga emo na pida iso te ndoke, ara no melu na kolopua, buntu no metae te kulino, bisara u kolopua “ndoke huu aku sabae”, balo no ndoke “basido, kunami-nami edo lagi”. Tunggala no melu o balo torusue afana iso.
Parantai no mangaremo I sai akono di ndoke, maka te kolopua o lahamo te akala ako te pamanda u ndoke iso. No lahamo te femba, maka no pamohamae, torusu no tanoe di futa toka no tofunie te roo nu kau. O bisara na kolopua “ko tumuhu di futa ara di kasoro”, balo no ndoke “ku tumuhu di kasoro”, bisara nu kolopua “ara afanatu tuhumo, kanae kusiapu akokomo”. te ndoke iso no tombomo, te orunguno no tika emo te femba iso.
Te o rungu no ndoke iso no koho-koho e te kolopua, maka no asoe di kampo nu ndoke keneno “ te emai na bumalu te ate nu komparu, potukara e ke ganda ke mbololo” te bisara u kolopua I tenda ako nu dage iso. Pasi no balue te ndoke keneno, o bisaramo na ia kua “manga te age nu ndoke keneno”. Parantai te bisarano iso sa no rodongo e “u bisara to umpa, u hei di mate a” bisara nu ndoke2. Maka te kolopua no daga emo te ndoke iso, toka no oko di loba. Parantai te oko anao iso sa no dahani e, maka te loba iso sa no nabuti e te fatu, ahirino te kolopua o mate.





TERJEMAHAN
Monyet dan Kura-kura
Pada zaman dahulu ada seekor kera dan kura-kura, suatu ketika mereka pergi ke hutan, di dalam perjalanan mereka menemukan sebatang pohon pisang. Merekapun memutuskan untuk mengambil pohon pisang tersebut, pohon tersebut dibagi dua. Pikir kera “akan kuambil ujungnya karena tentu akan lekas berbuah dan pangkalnya akan kuberikan pada kura-kura”. Lalu batang pisang tersebut ditanam. 
Suatu ketika mereka bertemu.  Tanya kura-kura  “bagaimana keadaan pisangmu” kura-kura menjawab “sudah tumbuh satu daun, kalau kau monyet”, jawab monyet  “ matembaole-ole idombaole-ole”
Suatu ketika mereka bertemu lagi. monyet bertanya “bagaimana pisangmu kura-kura” “ sudah dua daun yang tumbuh, kalau kau” jawab si kura-kura,  “matembaoleole idombaoleole”. Setelah pertemuan itu mereka bertemu lagi, Tanya monyet “bagaimana pisangmu kura-kura”, kura-kura menjawab “sudah berbuah kalau kau monyet bagaimana” , jawab monyet “matembaoleole idombaoleole” setelah itu mereka bertemu lagi. Tanya kura-kura “bagaimana pisangmu monyet”. Jawab monyet “sudah mati, biar batangnya sudah tidak kelihatan, kalau kau”, kura-kura menjawab “ sudah matang ”. “kalau begitu ayo kita lihat”, kata monyet.
Merekapun pergi ke tempat pisang tersebut, sesampainya disana kura-kura mencoba untuk memanjatnya namun ia tidak bisa. “ bagaimana caranya kau memanjat” Tanya monyet, jawab kura-kura “ saya tidak tahu”,  kemudian monyet menawarkan diri untuk memanjatnya “bagaimana kalau saya saja yang memanjatnya, nanti kau berikan saya upah” kura-kurapun mengiyakan hal tersebut. Monyetpun memanjatnya, sesampainya di atas ia memakan buah pisang tersebut, dan pada saat kura-kura minta ia malah memberikan kulitnya. Kata kura-kura “ monyet berikan saya satu”, jawab monyet “tunggu saya rasa dulu” setiap ia minta, monyet menjawab dengan jawaban yang sama.
Karena kura-kura sudah jengkel dengan perbuatan monyet,  kura-kurapun mencari akal untuk membalas perbuatan tersebut, ia mencari bambu, kemudian diruncingkan dan ditanam namun ditutupi oleh dedauanan. Kata kura-kura “monyet, kau mau turun di tanah yang keras atau di tempat yang empuk” saya mau turun di tempat yang empuk “ jawabnya” , “lompatlah saya sudah siapkan” kemudian ia lompat dan tubuhnyapun tertusuk oleh bambu-bambu itu.
Tubuhnya kemudian dipotong oleh kura-kura dan di jual kesesama monyet “siapa yang mau beli dagingnya ikan komparu ditukar dengan gendang” kata kura-kura saat menjual daging tersebut. Setelah dibeli ia berkata “ makan daging sesama monyet” , kata monyet 2 “kau bicara apa, mau dibunuh ya” iapun dikejar, namun ia bersembunyi di balik batu (lubang ). Karena tempat persembunyiannya di ketahui maka monyet menjatuhkan batu kedalam lubang itu, kura-kurapun mati.


APAKAH BUDAYA TULA-TULA MASIH SANGAT KENTAL DI KALANGAN MASYARAKAT WAKATOBI???
Tula-tula adalah cerita rakyat yang pewarisannya dari mulut ke mulut dari generasi ke generasi sebagai kisah masa lampau yang hingga kini masih tetap terpelihara dalam tradisi masyarakat di WAKATOBI. Cerita seperti yang dicontohkan di atas adalah cerita yang sampai saat ini masih sering diceritakan dan didengar oleh masyarakat WAKATOBI, yang biasanya diceritakan secara lisan meskipun langsung mengarah kepada inti ceritanya. Bahkan, ceritanya pernah di filmkan di salah satu stasiun televisi Indonesia sebagai cerita rakyat yang berasal dari WAKATOBI.
Tidak hanya budaya TULA-TULA untuk menceritakan cerita rakyat, TULA-TULA kan mengandung arti bercerita-cerita, jadi kejadian-kejadian apa saja yang baru dialami oleh siapapun, pasti langsung di ceritakan kepada teman-temannya yang belum mengetahui ataupun yang sudah mengetahui peristiwa kejadiannya. Hal ini biasa dilakukan oleh masyarakat yang berada di WAKATOBI apabila sudah berkumpul bersama teman-teman kerabatnya. Istilahnya masyarakat wakatobi “mai ikita hetula-tula’a” yang artinya mari kita cerita-cerita. Entah itu cerita untuk menggosip ataupun kisah nyata.


KESIMPULAN
Budaya tula-tula adalah merupakan genre folklor lisan d WAKATOBI dan merupakan cerita prosa masyarakat WAKATOBI.  Tula-tula dalam dialeg-dialeg masyarakat di WAKATOBI memiliki sedikitnya dua pengertian yakni; pertama, tula-tula berarti cerita seseorang tentang sesuatu hal dalam konteks kesekarangan. Kedua, yaitu tula-tula sebagai seluruh jenis cerita masa lampau yang tidak diketahui lagi siapa dan kapan cerita itu dibuat (cerita rakyat), baik yang tersaji dalam bentuk;  mite, legenda, maupun fable.

Tidak ada komentar: